Warga di kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, terus dihadapkan pada krisis air bersih yang tak berkesudahan. Pada 28 May 2026, keterbatasan akses terhadap sumber air layak konsumsi telah memaksa ribuan keluarga bergantung penuh pada jasa pedagang air keliling, menciptakan beban finansial yang signifikan di tengah kebutuhan harian yang mendesak. Situasi ini menyoroti tantangan serius dalam pemerataan infrastruktur dasar di ibu kota negara.
Dampak Intrusi Air Laut dan Keterbatasan Infrastruktur
Krisis air di Muara Angke bukan sekadar masalah ketersediaan, melainkan juga kualitas. Wilayah yang dekat dengan laut ini telah lama mengalami fenomena intrusi air laut, di mana air tanah tercampur dengan air asin. Akibatnya, sumur-sumur warga menghasilkan air yang payau, asin, dan sama sekali tidak layak untuk dikonsumsi maupun kebutuhan sanitasi. Kondisi geografis ini diperparah oleh belum meratanya jaringan pipa penyalur air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) atau penyedia air lainnya. Proyeksi pembangunan infrastruktur pipa yang seringkali lambat atau belum menjangkau seluruh area permukiman membuat warga tidak memiliki pilihan lain selain membeli air dari pihak ketiga. Ketergantungan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan.
Beban Hidup Warga dan Peran Vital Pedagang Keliling
Ketergantungan pada air jeriken berimbas langsung pada pembengkakan biaya hidup warga Muara Angke. Untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, memasak, dan mencuci, rata-rata satu kepala keluarga harus merogoh kocek antara Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 setiap bulan. Angka ini merupakan porsi signifikan dari pendapatan bulanan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Para pedagang air keliling, yang dikenal dengan gerobak atau pikulan mereka, memainkan peran krusial sebagai penopang utama dalam ekosistem ini. Mereka membeli air bersih dari kios resmi dengan harga sekitar Rp 2.000 per jeriken berkapasitas 20 liter. Kemudian, air tersebut didistribusikan ke rumah-rumah warga atau kios-kios pedagang lainnya dengan harga yang bervariasi, berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per jeriken, tergantung pada jarak tempuh dan tingkat kesulitan akses menuju lokasi pembeli.
Seorang warga Muara Angke yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keluh kesahnya:
“Setiap hari kami harus memikirkan uang untuk beli air. Bukan cuma buat minum, tapi juga buat mandi anak-anak dan nyuci baju. Rasanya seperti dibebani pajak harian untuk sesuatu yang seharusnya jadi hak dasar. Kami berharap pemerintah bisa segera cari solusi permanen agar kami tidak terus-menerus tercekik biaya air.”
Meskipun jasa pedagang air keliling sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan mendesak, solusi ini sifatnya sementara dan mahal. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah dan pusat untuk mempercepat pemerataan akses air bersih melalui pembangunan infrastruktur pipa yang komprehensif. Ketersediaan air bersih yang terjangkau dan berkualitas bukan hanya soal kenyamanan, melainkan hak dasar yang mendesak untuk dipenuhi demi meningkatkan kualitas hidup warga Muara Angke secara berkelanjutan di masa mendatang.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





