MAKKAH – Kisah inspiratif datang dari kelompok jemaah haji mandiri asal Sumenep, Jawa Timur, di Tanah Suci. Mereka tidak hanya menunjukkan semangat kekompakan luar biasa, tetapi juga berinovasi dalam memberikan dukungan, mulai dari membuat panduan video berbahasa Madura hingga secara aktif mendampingi jemaah lanjut usia (lansia) dalam menunaikan ibadah haji. Inisiatif ini menyoroti potret kemandirian dan gotong royong di tengah padatnya musim haji tahun ini.
Perjalanan haji bagi jemaah mandiri seringkali diwarnai tantangan unik, mengingat mereka tidak tergabung dalam rombongan besar dengan fasilitas pendampingan yang terstruktur. Namun, kelompok asal Sumenep ini justru menjadikan kemandirian sebagai kekuatan untuk membangun jaringan dukungan internal yang solid. Sejak tiba di Arab Saudi pada 15 May 2026, mereka telah mempraktikkan filosofi “saling bahu-membahu” sebagai kunci kelancaran ibadah.
Inovasi Panduan Berbahasa Madura dan Semangat Gotong Royong
Salah satu terobosan signifikan yang dilakukan jemaah ini adalah produksi video panduan singkat tentang tata cara ibadah haji dan tips praktis selama di Makkah dan Madinah. Keistimewaan video-video ini terletak pada penggunaan bahasa Madura, yang menjadi bahasa ibu mayoritas anggota kelompok.
“Kami menyadari banyak jemaah kami, terutama yang sepuh, mungkin kesulitan memahami instruksi yang hanya berbahasa Indonesia atau Arab. Jadi, kami berinisiatif membuat video-video sederhana yang menjelaskan setiap tahapan manasik haji, mulai dari thawaf, sa’i, hingga melontar jumrah, semuanya dalam bahasa Madura,” ujar Bapak Syafi’i, salah satu koordinator jemaah mandiri Sumenep, melalui sambungan telepon. “Video ini sangat membantu mereka merasa lebih nyaman dan yakin dalam menjalankan ibadahnya.”
Video-video tersebut disebarkan melalui grup perpesanan dan diputar ulang secara berkala, memastikan setiap jemaah memiliki akses informasi yang mudah dipahami. Langkah ini tidak hanya memecahkan kendala bahasa, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan di antara mereka. Solidaritas ini terbukti efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul selama menjalankan rukun Islam kelima ini.
Dedikasi Pendampingan Lansia dan Dampaknya
Selain inovasi panduan berbahasa Madura, aspek paling menonjol dari kekompakan jemaah Sumenep adalah dedikasi mereka dalam mendampingi jemaah lansia. Di tengah jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia, jemaah lansia menghadapi risiko kelelahan, disorientasi, hingga masalah kesehatan. Kelompok dari Sumenep ini memastikan tidak ada satu pun jemaah sepuh dari rombongan mereka yang tertinggal atau merasa sendiri.
Mereka membentuk tim kecil secara bergilir untuk menemani lansia saat bergerak antar lokasi, seperti dari penginapan ke Masjidil Haram, saat thawaf, sa’i, hingga saat menuju area melontar jumrah. Bantuan yang diberikan mencakup bantuan fisik, seperti memapah atau mendorong kursi roda, hingga bantuan non-fisik berupa motivasi dan komunikasi yang menenangkan.
“Bagi kami, ini bukan hanya soal ibadah pribadi, tapi juga ibadah sosial. Melihat senyum di wajah jemaah lansia kami setelah berhasil menyelesaikan satu rukun haji adalah kebahagiaan tersendiri. Mereka adalah orang tua kami, dan sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan mereka nyaman dan aman selama di sini,” tambah Ibu Halimah, jemaah lainnya yang aktif mendampingi.
Pendampingan ini memiliki dampak besar. Jemaah lansia merasa lebih tenang dan tidak cemas, yang sangat vital untuk menjaga stamina dan fokus spiritual mereka. Inisiatif jemaah haji mandiri asal Sumenep ini menjadi cerminan nilai-nilai luhur kebersamaan dan kepedulian yang melekat kuat dalam budaya Indonesia. Mereka membuktikan bahwa dengan semangat gotong royong dan inovasi sederhana, tantangan terbesar sekalipun dapat diatasi demi meraih haji mabrur.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





