Mantan Presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, memimpin upacara penghormatan terakhir bagi tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Acara penuh haru ini berlangsung di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada 04 April 2026, menandai kepulangan jenazah para pahlawan bangsa yang telah mendedikasikan hidupnya demi perdamaian dunia.
Ketiga prajurit yang gugur tersebut adalah Kapten (Anumerta) Doni Setiawan, Prajurit Kepala (Anumerta) Rio Ramadhan, dan Sersan Dua (Anumerta) Panca Sakti, yang merupakan bagian dari Kontingen Garuda XXXIX-F MONUSCO (Mission de l’Organisation des Nations Unies pour la stabilisation en République démocratique du Congo). Mereka dilaporkan gugur saat menjalankan tugas patroli keamanan di wilayah konflik Republik Demokratik Kongo, setelah terlibat baku tembak dengan kelompok bersenjata tak dikenal.
Kehadiran Simbolis SBY dan Baret Biru Perdamaian
Dalam upacara militer yang khidmat tersebut, SBY tampil mengenakan seragam safari hitam dengan baret biru khas pasukan perdamaian PBB, sebuah simbol yang sangat melekat pada dirinya sebagai mantan Panglima Kontingen Garuda VIII-2 di Bosnia Herzegovina. Kehadiran SBY yang mengenakan baret biru tersebut tak hanya sebagai bentuk penghormatan, namun juga sebagai representasi solidaritas dan ikatan batin dengan para prajurit yang bertugas di medan juang internasional. Prabowo Subianto, dengan seragam militernya, secara khusus mengajak SBY untuk maju dan berdiri sejajar dengannya di hadapan tiga peti jenazah yang terbungkus bendera Merah Putih, mengindikasikan rasa hormat mendalam antara kedua tokoh tersebut terhadap pengorbanan para prajurit.
Suasana duka menyelimuti area upacara, di mana keluarga korban, Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, serta sejumlah pejabat tinggi militer dan sipil turut hadir. Isak tangis keluarga tak terbendung saat peti jenazah diturunkan dari pesawat dan dibawa menuju tempat penghormatan. Para petinggi negara dan militer memberikan salut hormat terakhir, mengiringi kepergian para prajurit menuju peristirahatan abadi.
Penghormatan Penuh Haru dan Komitmen Negara
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam pidatonya menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik bangsa. Ia menekankan bahwa pengorbanan mereka adalah bukti nyata komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia dan tugas mulia di bawah bendera PBB. “Bangsa Indonesia berduka atas kehilangan putra-putra terbaiknya yang telah gugur dalam menjalankan tugas negara. Pengorbanan mereka adalah bukti nyata komitmen kita sebagai bangsa yang cinta damai, namun tidak akan gentar menghadapi ancaman dan tantangan demi menjaga kehormatan Ibu Pertiwi,” tegas Prabowo.
SBY, yang juga dikenal sebagai seorang jenderal purnawirawan, turut menyampaikan rasa dukanya. Ia menyoroti beratnya tugas seorang prajurit perdamaian dan pentingnya dukungan penuh dari negara. Ia juga mengungkapkan makna personal dari baret biru yang dikenakannya:
“Mengenakan baret biru ini, saya kembali merasakan ikatan batin yang mendalam dengan setiap prajurit yang bertugas di medan sulit, jauh dari tanah air. Mereka adalah pahlawan sejati yang mempertaruhkan nyawa demi tegaknya perdamaian dan kehormatan bangsa di mata dunia. Bangsa ini akan selalu mengenang jasa-jasa mereka.”
Upacara diakhiri dengan penyerahan santunan dan tanda kehormatan secara simbolis kepada keluarga korban, serta doa bersama untuk arwah para prajurit. Pemerintah memastikan akan memberikan dukungan penuh kepada keluarga yang ditinggalkan, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengorbanan yang telah diberikan. Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko dan pengorbanan yang selalu melekat pada misi-misi perdamaian, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang aktif berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





