Jakarta, 15 March 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara tegas menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat ibu kota untuk memperkuat jalinan toleransi dan keharmonisan antarumat beragama. Imbauan ini disampaikan mengingat momen istimewa di mana Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan Idulfitri bagi umat Islam akan berdekatan dalam kalender, menjadikannya periode krusial untuk menunjukkan semangat persatuan dan saling menghargai di tengah keberagaman Jakarta yang multikultural.
Dalam pernyataannya, Pramono Anung menekankan bahwa Jakarta sebagai rumah bagi berbagai suku, agama, dan budaya, memiliki tanggung jawab moral untuk senantiasa memelihara kerukunan. Kedekatan dua hari raya besar ini, menurutnya, bukanlah sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah kesempatan emas untuk mengukuhkan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Seruan Persatuan di Tengah Momen Sakral Berdekatan
Hari Raya Nyepi, yang diperingati umat Hindu, adalah momen sakral yang diisi dengan catur brata penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Ini adalah waktu untuk refleksi diri, penyucian jiwa, dan introspeksi. Sementara itu, Idulfitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa, dirayakan dengan salat Id, silaturahmi, dan saling memaafkan.
Kedua perayaan ini, meskipun berbeda makna dan tata cara, sama-sama membawa pesan kedamaian, kesucian, dan kebersamaan. Gubernur Pramono Anung melihat sinergi ini sebagai fondasi kuat untuk membangun rasa saling pengertian. “Kita patut bangga dengan kemajemukan yang kita miliki. Di saat umat Hindu merayakan Nyepi dengan khidmat dalam keheningan, dan tak lama berselang umat Muslim merayakan Idulfitri dengan suka cita penuh kebersamaan, ini adalah bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan,” ujar Pramono Anung.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk mendukung penuh pelaksanaan kedua hari raya ini agar berjalan lancar dan damai. Berbagai koordinasi telah dilakukan dengan tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta aparat keamanan untuk memastikan kondusivitas ibu kota terjaga.
Fondasi Harmoni di Ibu Kota Multikultural
Jakarta, dengan statusnya sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya Indonesia, merupakan miniatur dari keberagaman Nusantara. Oleh karena itu, menjaga toleransi di Jakarta memiliki implikasi yang luas bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Pramono Anung menggarisbawahi pentingnya setiap individu dan kelompok masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang harmonis.
“Jakarta adalah rumah bagi kita semua, dengan segala latar belakang keyakinan. Di momen sakral yang berdekatan ini, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan toleransi bukan hanya slogan, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Pramono Anung, menekankan pentingnya saling menghargai dan memahami. “Ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, adalah teladan kerukunan beragama.”
Pesan ini juga mengingatkan bahwa kerukunan bukan hanya tentang tidak adanya konflik, melainkan tentang adanya kesediaan untuk hidup berdampingan, memahami perspektif yang berbeda, dan merayakan keberagaman sebagai kekuatan. Para pemuka agama diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan kasih sayang kepada umatnya.
Dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati, diharapkan perayaan Nyepi dan Idulfitri di Jakarta akan menjadi momentum yang mempererat tali persaudaraan, menciptakan suasana yang aman, damai, dan penuh berkah bagi seluruh warga ibu kota.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





