Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pemulihan Pertanian Pasca-Bencana, Bapak Tito, mengunjungi langsung kawasan persawahan di Pidie Jaya, Aceh, yang kini tak lagi hijau, melainkan tertimbun lapisan lumpur tebal akibat bencana alam yang melanda belum lama ini. Kunjungan ini menyoroti kerusakan parah pada sekitar 1.500 hektare lahan pertanian, memicu desakan kuat dari pemerintah agar Kementerian Pertanian (Kementan) segera turun tangan demi mengembalikan produktivitas lahan dan menyelamatkan mata pencarian petani.
Pemandangan di Pidie Jaya pada 21 February 2026 merupakan cerminan nyata dari kerugian besar yang dialami sektor pertanian lokal. Ribuan petani di wilayah tersebut kini menghadapi ketidakpastian setelah sumber penghidupan utama mereka hancur. Lumpur yang mengendap tidak hanya merusak tanaman siap panen, tetapi juga mengubur saluran irigasi dan infrastruktur pertanian lainnya, membuat proses pemulihan menjadi tantangan berat.
Dalam tinjauannya, Kasatgas Tito mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam melihat langsung dampak devastasi tersebut. Ia berdialog dengan beberapa petani yang terdampak, mendengarkan keluh kesah dan harapan mereka akan bantuan cepat.
Situasi di Pidie Jaya ini sangat memprihatinkan. Lahan yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini terdiam, terbungkus lumpur. Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Saya meminta dukungan penuh dari Kementerian Pertanian untuk segera merancang dan mengimplementasikan program pemulihan komprehensif. Petani kita butuh harapan dan aksi nyata.
Upaya Pemulihan dan Dukungan Kementan
Menanggapi kondisi darurat ini, pemerintah daerah bersama dengan pemerintah pusat sedang mengoordinasikan langkah-langkah strategis. Dukungan Kementan diharapkan mencakup penyediaan bibit unggul, bantuan alat pertanian, pupuk, serta pelatihan teknis bagi petani. Prioritas utama adalah membersihkan sisa-sisa lumpur, memperbaiki sistem irigasi, dan menyiapkan lahan agar siap ditanami kembali secepatnya. Perkiraan awal menunjukkan bahwa biaya pemulihan akan signifikan, membutuhkan alokasi anggaran khusus dan kerja sama lintas sektor.
Program pemulihan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pertanian, tetapi juga pada pemberdayaan petani untuk bangkit dari keterpurukan. Diharapkan Kementan dapat berkolaborasi erat dengan dinas pertanian setempat dan kelompok tani untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan. Penilaian kerusakan yang akurat dan perencanaan jangka panjang menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
Dampak Ekonomi dan Ketahanan Pangan Nasional
Kerusakan di Pidie Jaya tidak hanya berdampak pada petani lokal, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi regional dan ketahanan pangan nasional. Pidie Jaya dikenal sebagai salah satu lumbung padi penting di Aceh, sehingga penurunan produksi di wilayah ini dapat memengaruhi pasokan beras di pasar dan berpotensi memicu kenaikan harga.
Pemerintah pusat menyadari pentingnya pemulihan cepat untuk mencegah inflasi pangan dan menjaga daya beli masyarakat, khususnya di tengah situasi ekonomi global yang menantang. Oleh karena itu, percepatan respons dari Kementan bukan hanya soal membantu petani, tetapi juga investasi dalam menjaga stabilitas ekonomi makro dan memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Meskipun tantangan yang dihadapi tidak ringan, komitmen pemerintah untuk memulihkan Pidie Jaya tetap kuat. Kasatgas Tito menegaskan bahwa setiap upaya akan dilakukan untuk memastikan bahwa lahan-lahan produktif ini dapat kembali menghijau dan petani dapat kembali menatap masa depan dengan optimisme. Keberhasilan pemulihan ini akan menjadi barometer bagi efektivitas respons bencana dan koordinasi antarlembaga di Indonesia.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





