Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak 23 January 2026 siang hingga malam telah memicu kemacetan parah dan genangan air di berbagai ruas jalan utama. Kondisi ini melumpuhkan aktivitas warga, terutama mereka yang hendak pulang ke rumah, mengubah perjalanan singkat menjadi ‘horor’ yang memakan waktu berjam-jam. Salah satu korban adalah Andi, seorang pekerja swasta yang harus menempuh perjalanan tiga jam lebih dari Tendean menuju Jati Asih, Bekasi.
Perjalanan Pulang yang Menantang: Kisah Andi di Tengah Banjir Ibu Kota
Andi, yang biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke rumahnya di Jati Asih, kali ini harus berhadapan dengan situasi yang sama sekali berbeda. “Ini benar-benar di luar dugaan. Biasanya kalau hujan ya macet, tapi tidak sampai seperti ini,” ujar Andi saat dihubungi 23 January 2026 malam. Perjalanan yang dimulai dari Jalan Tendean terasa tak berujung. Setiap beberapa meter, laju motornya terhenti total. Genangan air setinggi betis orang dewasa terlihat di beberapa titik krusial seperti Jalan Gatot Subroto dan perbatasan Jakarta Timur-Bekasi.
“Rasanya seperti tidak ada harapan untuk sampai rumah. Punggung sudah pegal, baju basah karena percikan air, dan mesin motor beberapa kali nyaris mati karena menerobos genangan,” tutur Andi, menggambarkan keputusasaannya.
Andi menjelaskan, selain genangan air, banyaknya kendaraan yang mogok di tengah jalan juga memperparah kondisi. Para pengendara motor, mobil pribadi, hingga angkutan umum terlihat terjebak dalam antrean panjang yang nyaris tidak bergerak. Kelelahan dan rasa frustrasi tampak jelas di wajah para komuter yang pasrah menunggu kemacetan terurai. Beberapa memilih menepi untuk berteduh atau sekadar istirahat, namun kemacetan tetap tidak terurai hingga larut malam. Situasi ini bukan hanya menguras waktu, tetapi juga energi dan kesabaran warga.
Dampak Meluas dan Tantangan Penanganan Ibu Kota
Fenomena kemacetan dan genangan air pascahujan lebat bukan kali pertama terjadi di Jakarta. Setiap musim penghujan, warga ibu kota dihadapkan pada skenario serupa yang berulang, membangkitkan kekhawatiran akan efektivitas sistem drainase dan manajemen lalu lintas. Selain kerugian waktu dan energi bagi komuter, kondisi ini juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Keterlambatan distribusi barang, penurunan produktivitas pekerja, hingga potensi kerusakan infrastruktur adalah beberapa konsekuensi langsung yang harus ditanggung.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri, melalui Dinas Sumber Daya Air, telah berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari pengerukan saluran air, pembangunan tanggul, hingga optimalisasi pompa-pompa air di titik rawan banjir. Namun, tantangan yang dihadapi sangat kompleks, meliputi tata ruang kota yang padat, kebiasaan membuang sampah sembarangan yang menyumbat saluran air, hingga kapasitas drainase yang belum memadai untuk intensitas hujan ekstrem yang kerap terjadi belakangan ini. Koordinasi antar wilayah penyangga Jakarta juga menjadi kunci penting dalam mengatasi masalah banjir dan kemacetan yang bersifat regional.
Masyarakat berharap, dengan adanya program-program jangka panjang yang berkelanjutan serta peningkatan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat, permasalahan klasik ini dapat segera teratasi. Agar cerita horor perjalanan pulang seperti yang dialami Andi tidak lagi menjadi momok yang harus dihadapi warga Jakarta setiap kali hujan deras mengguyur.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda






