Situ Rawa Kalong di Kota Depok, yang pernah digadang-gadang sebagai ikon ruang publik modern dan solusi pengendali banjir, kini menghadapi nasib memprihatinkan. Proyek revitalisasi yang menjadi salah satu warisan signifikan dari masa kepemimpinan mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, kini tampak terbengkalai, jauh dari visi awalnya sebagai area multifungsi yang estetis dan fungsional.
Pantauan lapangan pada 31 January 2026 menunjukkan kondisi Situ Rawa Kalong yang kontras dengan gembar-gembor awal. Genangan air keruh, tumpukan sampah yang mulai menumpuk di beberapa sudut, serta fasilitas umum yang tidak terawat menjadi pemandangan sehari-hari. Potensi dan investasi besar yang telah digelontorkan untuk mengubah wajah situ ini terancam sia-sia jika kondisi ini terus berlanjut.
Visi Gemilang yang Meredup
Revitalisasi Situ Rawa Kalong merupakan bagian dari program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil. Proyek ini bertujuan ganda: menciptakan ruang terbuka hijau yang representatif bagi warga Depok sekaligus memperkuat fungsi Situ Rawa Kalong sebagai penampungan air alami untuk mengendalikan banjir di wilayah sekitarnya. Dengan desain yang modern, dilengkapi jogging track, area pedestrian, taman, dan fasilitas pendukung lainnya, situ ini diharapkan menjadi destinasi rekreasi dan edukasi baru.
Anggaran yang tidak sedikit telah dialokasikan untuk mewujudkan visi tersebut, dengan harapan Situ Rawa Kalong dapat mencontoh keberhasilan revitalisasi situ-situ lain di Jawa Barat yang kini menjadi kebanggaan daerah. Berbagai media pun pernah memberitakan kemegahan dan janji masa depan Situ Rawa Kalong sebagai “wajah baru” Depok yang lebih hijau dan tertata. Namun, seiring berjalannya waktu pasca-peresmian dan serah terima, gaung ambisius tersebut perlahan meredup.
Dampak Keterlantaran dan Harapan Warga
Kondisi Situ Rawa Kalong saat ini menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat Depok, terutama mereka yang tinggal di sekitar lokasi. Fasilitas yang seharusnya menunjang aktivitas publik justru tidak lagi nyaman dan bahkan cenderung membahayakan. Area jogging track yang kotor dan licin, serta taman yang tidak terurus, membuat warga enggan memanfaatkannya. Lebih jauh lagi, fungsi vitalnya sebagai pengendali banjir pun dipertanyakan seiring dengan kurangnya perawatan dan potensi sedimentasi yang mengancam.
“Dulu kami sangat antusias, menyambut janji ruang publik yang modern dan solusi banjir. Kini, situ ini justru menjadi cerminan dari kegagalan dalam menjaga aset publik,” ujar seorang warga setempat, Bapak Budi (nama samaran), yang kerap melintas di area tersebut. “Padahal, kalau dirawat sedikit saja, tempat ini bisa kembali indah dan bermanfaat bagi kita semua.”
Pertanyaan besar pun muncul mengenai siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas pemeliharaan dan keberlanjutan proyek ini pasca-serah terima dari pemerintah provinsi. Apakah ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Depok, atau masih ada keterlibatan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat? Tanpa kejelasan manajemen dan alokasi anggaran pemeliharaan yang memadai, investasi miliaran rupiah yang telah digelontorkan terancam sia-sia.
Kondisi Situ Rawa Kalong menjadi studi kasus penting mengenai keberlanjutan proyek infrastruktur publik pasca-kepemimpinan tertentu. Warga berharap ada tindakan nyata dan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah kota dan provinsi untuk mengembalikan fungsi serta keindahan Situ Rawa Kalong, menjadikannya kembali sebagai aset berharga bagi masyarakat Depok.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





