Jakarta, 15 February 2026 – Di balik hiruk pikuk dapur besar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah mempersiapkan ribuan porsi makanan, ada kisah inspiratif tentang kesempatan kedua. Frederick, seorang mantan narapidana, kini menjadi bagian integral dari tim persiapan dapur. Perjalanannya dari balik jeruji besi menuju dapur komunitas ini menjadi potret nyata keberhasilan program rehabilitasi sosial yang terintegrasi.
Frederick, yang enggan disebutkan nama belakangnya untuk menjaga privasi masa lalunya, adalah satu dari sekian banyak individu yang diberikan kesempatan untuk menata ulang hidup. Dengan usia kepala empat, ia pernah menghabiskan beberapa tahun di lembaga pemasyarakatan karena kasus yang tidak disebutkan secara rinci. Stigma dan kesulitan mencari pekerjaan pasca-bebas adalah tantangan besar yang dihadapinya, seperti ribuan mantan narapidana lainnya di seluruh Indonesia.
Namun, sebuah pintu terbuka saat ia diperkenalkan pada Program MBG melalui sebuah lembaga pendampingan mantan narapidana. “Awalnya saya ragu, apakah saya bisa diterima lagi di masyarakat, apalagi di lingkungan kerja,” ujar Frederick dengan nada rendah, sambil sesekali mengaduk adonan di wajan besar. “Tapi di sini, saya merasa dihargai. Mereka tidak melihat masa lalu saya, tapi potensi yang bisa saya berikan.”
Kisah di Balik Celemek Dapur
Setiap pagi, Frederick tiba di dapur pusat MBG sebelum fajar menyingsing. Tugasnya bervariasi, mulai dari menyiapkan bahan baku, memotong sayuran, hingga membantu proses memasak dalam skala besar. Ketelitian dan kerja kerasnya telah membuatnya menjadi salah satu anggota tim yang diandalkan. Di sini, ia tidak hanya belajar keterampilan memasak, tetapi juga disiplin, kerja sama tim, dan tanggung jawab yang mungkin pernah hilang dalam hidupnya.
Kisah Frederick adalah contoh nyata bagaimana sebuah program pemerintah dapat memiliki dampak ganda: memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sekaligus memberikan harapan baru bagi individu yang berjuang untuk kembali diterima. Ia menceritakan bagaimana lingkungan kerja yang positif dan dukungan dari rekan-rekan serta koordinator program telah membantunya membangun kembali kepercayaan diri.
“Kami percaya bahwa setiap individu layak mendapatkan kesempatan kedua, terutama mereka yang menunjukkan komitmen kuat untuk berubah dan berkontribusi kembali kepada masyarakat. Kisah Frederick adalah bukti nyata bahwa program seperti MBG dapat menjadi jembatan menuju rehabilitasi yang berarti, bukan hanya dalam kata, tapi dalam tindakan nyata sehari-hari.”
Demikian disampaikan oleh salah satu koordinator program MBG, Ibu Lestari (bukan nama sebenarnya), yang menekankan pentingnya aspek pemberdayaan dalam setiap inisiatif pemerintah.
MBG: Lebih dari Sekadar Pemberi Makan
Program Makan Bergizi Gratis, yang digagas sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan masyarakat rentan, ternyata memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Selain menyediakan makanan siap saji yang bergizi, program ini juga secara aktif melibatkan berbagai pihak, termasuk memberikan peluang kerja bagi kelompok rentan, seperti mantan narapidana.
Skala operasional MBG yang masif membutuhkan tenaga kerja yang signifikan, dari level manajemen hingga staf dapur dan distribusi. Ini menciptakan ribuan lapangan pekerjaan, baik sementara maupun permanen, yang dapat menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak keluarga. Melalui rekrutmen yang inklusif, MBG tidak hanya berfokus pada efisiensi logistik, tetapi juga pada dampak sosial yang berkelanjutan.
Partisipasi mantan narapidana seperti Frederick di dapur MBG mengirimkan pesan kuat tentang rehabilitasi dan reintegrasi. Ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat dan kesempatan yang diberikan, mereka dapat bertransformasi menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab, menghapus stigma yang seringkali melekat pada mereka.
Di penghujung hari kerja, Frederick pulang dengan senyum tipis di wajahnya. Ada kelelahan, tapi juga kepuasan. Ia kini memiliki rutinitas, tujuan, dan yang terpenting, harapan. Kisahnya di dapur MBG bukan hanya tentang menyiapkan makanan, melainkan juga tentang merajut kembali benang-benang kehidupan yang pernah putus, membuktikan bahwa kesempatan kedua memang ada dan dapat diwujudkan melalui program-program yang berpihak pada kemanusiaan.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





