TEGAL – Fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih terus berlangsung dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius. Ribuan warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka demi keselamatan. Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Tanah Bergerak hingga 16 Februari 2026, sebagai upaya respons terhadap krisis yang terjadi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan signifikan jumlah pengungsi akibat pergerakan tanah yang persisten. Berdasarkan data BNPB, tercatat pada Minggu, 8 Februari 2026, setidaknya 2.453 jiwa dari Desa Padasari telah meninggalkan kediaman mereka dan menempati lokasi pengungsian sementara. Angka ini mencerminkan skala bencana yang mengharuskan evakuasi massal.
Ribuan Jiwa Terdampak, Kondisi Pengungsian Memprihatinkan
Gelombang pengungsian dari Desa Padasari didominasi oleh kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus. Dari total 2.453 pengungsi, tercatat ada 220 warga lanjut usia (lansia), 3 ibu hamil, 3 ibu menyusui, 179 anak-anak, 40 balita, dan 65 batita. Sisanya adalah 1.049 remaja dan 894 dewasa. Proses evakuasi warga terus dilakukan oleh tim gabungan guna memastikan tidak ada korban jiwa dan semua warga terdampak mendapatkan tempat yang aman.
Para pengungsi saat ini terpusat di delapan titik pengungsian yang telah disiapkan. Kondisi di pengungsian menjadi fokus utama penanganan, di mana kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan menjadi prioritas. Koordinator tim medis di salah satu posko pengungsian, dr. Fitriani, menyampaikan kekhawatirannya:
“Kami terus memantau kesehatan para pengungsi, terutama anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap penyakit di lingkungan pengungsian. Sanitasi dan ketersediaan air bersih menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi untuk mencegah wabah penyakit.”
Tim di lapangan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan logistik dasar, termasuk selimut, tikar, perlengkapan mandi, serta makanan bergizi untuk semua kelompok usia, khususnya bayi dan anak-anak.
Respons Cepat Pemerintah dan Harapan Mitigasi Jangka Panjang
Menyikapi eskalasi bencana ini, pemerintah pusat melalui BNPB dan pemerintah daerah Kabupaten Tegal telah mengambil langkah-langkah responsif. Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan tertulis pada Senin, 9 Februari 2026, menegaskan komitmen lembaganya.
BNPB menyatakan akan terus bersiaga di lokasi terdampak, memberikan pendampingan intensif kepada pemerintah daerah setempat, serta menyalurkan dukungan bantuan logistik dan makanan secara berkelanjutan. Penetapan status Tanggap Darurat Bencana oleh Pemerintah Kabupaten Tegal hingga 16 Februari 2026 menandakan keseriusan dalam penanganan darurat, yang memungkinkan alokasi sumber daya lebih cepat dan terkoordinasi.
Meskipun fokus saat ini adalah penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan pengungsi, pentingnya mitigasi jangka panjang dan kajian geologis mendalam menjadi sorotan. Para ahli geologi dan pakar kebencanaan diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang, atau setidaknya meminimalkan dampaknya. Hal ini termasuk kemungkinan relokasi permanen bagi warga yang tinggal di zona rawan serta pengembangan sistem peringatan dini yang efektif.
Hingga 09 February 2026, upaya penanganan masih terus dilakukan dengan harapan seluruh warga terdampak mendapatkan perlindungan dan pemulihan, sambil merumuskan solusi jangka panjang untuk keamanan dan keberlanjutan hidup masyarakat Padasari.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





