JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat, telah memicu kekhawatiran serius di kalangan akademisi Indonesia. Dampak konflik yang tampaknya jauh ini dipandang memiliki implikasi signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan nasional Indonesia, mendorong seruan untuk kewaspadaan dan strategi mitigasi proaktif dari pemerintah.
Pada 08 March 2026, sejumlah pakar hubungan internasional kembali menyoroti potensi risiko yang mengintai Indonesia. Mereka memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Selat Hormuz, salah satu jalur maritim terpenting di dunia, dapat memicu krisis ekonomi global yang tak terhindarkan dan berimbas langsung pada stabilitas domestik.
Ancaman Ekonomi dari Selat Hormuz
Dosen Hubungan Internasional Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, secara tegas menggarisbawahi ancaman ekonomi yang mengintai Indonesia. Menurutnya, posisi Selat Hormuz sebagai urat nadi pengiriman minyak dunia menjadikannya sangat rentan terhadap gejolak politik. Sekitar sepertiga dari total pasokan minyak mentah global melewati selat ini setiap hari. Oleh karena itu, gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat memicu efek domino yang merusak.
Ancaman krisis ekonomi akibat eskalasi di Selat Hormuz adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi Indonesia, ujar Tia. Ketergantungan kita pada jalur perdagangan vital ini, baik untuk impor energi maupun ekspor komoditas, membuat kita sangat rentan terhadap gejolak di Timur Tengah.
Ketergantungan Indonesia pada rantai pasok global dan fluktuasi harga energi menuntut respons yang cepat dan adaptif dari pemerintah dan sektor swasta. Tanpa mitigasi yang efektif, lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi domestik yang tinggi, mengikis daya beli masyarakat, dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Eskalasi konflik diperkirakan akan menyebabkan lonjakan harga minyak mentah global, yang secara langsung akan meningkatkan beban subsidi energi bagi APBN Indonesia. Selain itu, biaya logistik dan pengiriman barang juga akan membengkak, mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Dampak lebih lanjut adalah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, yang pada gilirannya akan membuat barang impor semakin mahal dan menekan sektor industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Para ekonom juga memperingatkan bahwa gangguan pada rantai pasok global akibat blokade atau penyerangan di jalur pelayaran vital dapat menyebabkan kelangkaan barang dan menghambat aktivitas ekspor-impor Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak negatif pada neraca perdagangan dan investasi di dalam negeri.
Implikasi Lebih Luas bagi Keamanan Nasional
Dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi. Para akademisi dan pengamat keamanan juga menyoroti potensi implikasi terhadap keamanan nasional Indonesia dalam skala yang lebih luas. Eskalasi konflik, terutama jika melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, dapat mempercepat ketidakstabilan regional dan global.
Secara geopolitik, konflik tersebut dapat memicu pergeseran aliansi dan kekuatan, yang berpotensi memengaruhi posisi Indonesia dalam kancah internasional. Keamanan siber juga menjadi perhatian, dengan potensi peningkatan serangan siber yang menargetkan infrastruktur vital sebagai bagian dari perang proksi global.
Pemerintah Indonesia diharapkan untuk tidak hanya berfokus pada mitigasi dampak ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat diplomasi dan posisi netral aktif dalam isu-isu global. Diversifikasi sumber energi, penguatan cadangan strategis, serta pengembangan kemandirian ekonomi menjadi langkah-langkah krusial untuk mengurangi kerentanan negara terhadap gejolak eksternal.
Kewaspadaan adalah kunci. Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbuka dan keterkaitan yang erat dengan dinamika global, harus memiliki strategi komprehensif untuk menghadapi potensi risiko dari konflik yang berkembang di Timur Tengah. Kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil, diperlukan untuk memastikan Indonesia tetap resilien di tengah ketidakpastian global.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda






