Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah provinsi dengan kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana, kini memiliki pionir dalam mitigasi yang datang dari kalangan penyandang disabilitas. Fatoni, seorang sosok inspiratif, bukan hanya terlibat aktif, melainkan menjadi arsitek di balik sistem siaga bencana yang berfokus pada inklusivitas, memastikan setiap kelompok masyarakat terlindungi secara optimal.
Kisah Fatoni merupakan cerminan baru tentang bagaimana disabilitas dapat menjadi kekuatan pendorong inovasi dan pengabdian. Melampaui stigma dan keterbatasan fisik, ia membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki peran krusial dalam memetakan kelompok rentan, menyusun basis data yang akurat, hingga memberikan masukan berharga dalam perencanaan penanggulangan bencana di tingkat lokal maupun regional. Kontribusinya mengubah paradigma bahwa disabilitas bukan lagi objek pasif dalam penanganan bencana, melainkan subjek aktif yang mampu merancang solusi adaptif dan responsif.
Meningkatkan Kesiapsiagaan Melalui Data Inklusif
Inovasi Fatoni berpusat pada pengembangan sebuah Sistem Informasi Kesiapsiagaan Bencana (SIKB NTB) yang memanfaatkan teknologi geospasial dan data partisipatif. Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi dan memetakan secara detail kelompok-kelompok paling rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penyandang disabilitas lainnya, yang seringkali terabaikan dalam perencanaan mitigasi konvensional. Dengan data yang tersegmentasi dan terverifikasi, pemerintah daerah dan tim respons bencana dapat merumuskan strategi evakuasi dan bantuan yang lebih personal dan efektif.
Proses pengumpulan data SIKB NTB tidak hanya mengandalkan survei lapangan, tetapi juga melibatkan komunitas lokal secara langsung. Fatoni dan timnya melatih relawan dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, untuk menjadi agen pengumpul data di wilayah masing-masing. Pendekatan partisipatif ini tidak hanya memperkaya basis data dengan informasi yang akurat dari akar rumput, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk lebih peka terhadap risiko bencana di lingkungan mereka.
“Saya ingin memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal dalam upaya mitigasi bencana. Disabilitas mengajarkan saya tentang perspektif yang berbeda, yang justru menjadi kekuatan dalam memahami kerentanan dan merancang solusi yang benar-benar inklusif,” ujar Fatoni, penuh semangat.
Dari Ide Lokal Menuju Inspirasi Nasional
Dampak dari sistem yang dirancang Fatoni mulai terasa signifikan di NTB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB telah mengintegrasikan data dan masukan dari SIKB NTB ke dalam rencana kontingensi mereka, memungkinkan respons yang lebih cepat dan terarah saat terjadi insiden. Pelatihan kesiapsiagaan yang melibatkan kelompok rentan juga telah menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesiapan dalam menghadapi potensi bencana, mulai dari gempa bumi hingga banjir bandang.
Pekerjaan Fatoni juga telah menarik perhatian dari berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai model inklusivitas dalam penanggulangan bencana. Ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman perspektif adalah aset tak ternilai dalam menghadapi tantangan kompleks seperti perubahan iklim dan risiko bencana alam. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan kemauan dan inovasi, keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk menciptakan dampak positif yang luas.
“Kontribusi Fatoni adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi inovasi dan pengabdian. SIKB NTB tidak hanya efektif, tetapi juga model inklusivitas yang patut dicontoh dan direplikasi di daerah lain yang memiliki kerentanan serupa,” kata Dr. Ir. Budi Santoso, Kepala BPBD NTB, pada 09 June 2026. Ke depan, diharapkan inisiatif Fatoni ini dapat terus dikembangkan dan menjadi standar nasional dalam menciptakan sistem siaga bencana yang benar-benar adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda





