Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa kritik yang ditujukan kepada pemerintah sejatinya merupakan manifestasi dari bentuk cinta dan kepedulian masyarakat terhadap jalannya roda pemerintahan. Pernyataan ini disampaikan Hasto dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, menyoroti pandangan partai banteng moncong putih tersebut terhadap dinamika politik dan partisipasi publik.
Kritik sebagai Manifestasi Cinta dan Pembelajaran Politik
Hasto menjelaskan bahwa dalam kacamata PDIP, setiap kritik, bahkan yang pedas sekalipun, harus dipandang sebagai upaya kolektif untuk mendorong perbaikan. Menurutnya, kritik bukan sekadar upaya menjatuhkan atau mencari kesalahan, melainkan cerminan harapan agar pemerintah dapat bekerja lebih baik dan memenuhi ekspektasi rakyat.
“Kami selalu memandang bahwa kritik yang datang dari masyarakat, dari berbagai elemen, adalah bentuk kecintaan. Itu adalah wujud harapan agar pemerintah yang kita cintai ini bisa semakin baik dalam melayani rakyat. Tanpa kritik, kita bisa kehilangan arah,” ujar Hasto Kristiyanto.
Pandangan ini menunjukkan kematangan berpolitik PDIP yang, sebagai partai besar, mencoba merangkul dan memahami esensi dari kebebasan berpendapat. Hal ini juga sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang menjunjung tinggi hak warga negara untuk mengawasi dan memberikan masukan kepada penyelenggara negara demi terciptanya tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Pengalaman Era Jokowi dan Kedewasaan Berpolitik PDIP
Lebih lanjut, Hasto menyatakan bahwa pengalaman PDIP selama berada di dalam pemerintahan pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi sebuah “pelajaran berharga” dalam menyikapi dan menghadapi kritik publik. Sebagai partai pengusung utama pemerintahan Jokowi selama dua periode, PDIP tidak asing dengan sorotan dan evaluasi dari berbagai pihak.
Periode tersebut, menurut Hasto, memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana mengelola kritik secara konstruktif, mengubahnya menjadi masukan untuk kebijakan, dan tetap menjaga komunikasi dengan publik. “Kami belajar banyak dari era Pak Jokowi. Bagaimana kami menghadapi berbagai kritik, baik dari internal maupun eksternal, dan menjadikannya cermin untuk perbaikan,” tambah Hasto. Pelajaran ini mencakup pentingnya mendengarkan aspirasi rakyat, merespons isu-isu sensitif dengan bijak, serta terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Sikap PDIP ini diharapkan dapat memberikan teladan bagi partai politik lain serta eksekutif dalam merespons dinamika kritik di tengah masyarakat. Dengan demikian, kebebasan berpendapat dapat berjalan seiring dengan upaya membangun bangsa tanpa harus menimbulkan polarisasi yang berlebihan. Pernyataan Hasto pada 18 April 2026 ini juga menjadi sinyal kuat bahwa PDIP siap menjalani peran apa pun dalam konstelasi politik mendatang dengan kedewasaan dan semangat konstruktif.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda






