Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, kembali menekankan pentingnya kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi utama stabilitas sosial dan prasyarat mutlak bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Penegasan ini disampaikan dalam konteks persiapan penyelenggaraan Harmony Award 2025, sebuah inisiatif strategis kementerian untuk mengapresiasi dan mendorong upaya pemeliharaan toleransi di seluruh pelosok negeri.
Memperkuat Fondasi Kerukunan untuk Pembangunan
Dalam berbagai kesempatan, Menag Nasaruddin Umar tak henti-hentinya menyuarakan bahwa Indonesia, dengan kemajemukan suku, agama, ras, dan antargolongan, harus menjadikan kerukunan sebagai modal sosial yang tak ternilai. Beliau menjelaskan bahwa kerukunan bukan hanya sekadar absennya konflik, melainkan sebuah kondisi aktif di mana setiap warga negara merasa aman, nyaman, dan dihormati dalam menjalankan keyakinan serta identitasnya.
Menurut Menag, tanpa kerukunan yang kokoh, upaya pembangunan di sektor ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan akan menghadapi tantangan serius. Konflik sosial yang timbul akibat retaknya kerukunan dapat menguras energi bangsa, menghambat investasi, dan merusak kohesi sosial yang telah dibangun dengan susah payah. Oleh karena itu, investasi dalam merawat kerukunan adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa yang lebih cerah dan berkelanjutan.
Kementerian Agama sendiri, di bawah kepemimpinan Nasaruddin Umar, terus menggalakkan berbagai program dialog antarumat beragama, pendidikan karakter berbasis moderasi beragama, serta penguatan peran penyuluh agama di garis depan. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa semangat toleransi dan saling menghargai terus tertanam di setiap lapisan masyarakat.
Harmony Award 2025: Apresiasi dan Motivasi Persatuan
Inisiatif Harmony Award 2025 dirancang sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam memberikan penghargaan kepada individu, kelompok masyarakat, maupun lembaga yang secara konsisten berkontribusi dalam menjaga dan mempromosikan kerukunan di tengah masyarakat. Proses seleksi yang transparan dan akuntabel diharapkan dapat menjaring para pegiat toleransi dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh agama, pemimpin adat, hingga aktivis komunitas yang bekerja di akar rumput.
Menag berharap, dengan adanya penghargaan ini, semangat untuk berkolaborasi dan membangun jembatan antarperbedaan semakin tumbuh subur. Program ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan harmonis, sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya menjaga persatuan adalah tugas mulia yang layak mendapat apresiasi.
“Kerukunan adalah pilar utama yang menopang keutuhan bangsa. Tanpa pilar ini, bangunan peradaban kita akan rapuh dan mudah diguncang. Maka dari itu, marilah kita jadikan merawat kerukunan sebagai agenda prioritas dan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat,” tegas Menag Nasaruddin Umar dalam pernyataannya kepada media pada 29 November 2025.
Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan tokoh agama, diharapkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang rukun, damai, dan sejahtera dapat terus terwujud. Persiapan untuk Harmony Award 2025, yang direncanakan akan diselenggarakan secara meriah sebagai puncak apresiasi, menjadi salah satu upaya konkret untuk mengukuhkan tekad ini, sekaligus menandai komitmen Indonesia dalam merajut keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda






