Penelitian terbaru dari Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia (UI) mengungkap temuan mengejutkan: mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan porsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan ini memicu desakan keras dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera mengevaluasi Sistem Penyediaan Pangan dan Gizi (SPPG) yang berlaku, mengingat potensi pemborosan anggaran dan efektivitas program yang dipertanyakan.
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti UI tersebut menemukan bahwa tingkat pemborosan makanan dalam program MBG di beberapa sekolah dasar cukup signifikan. Data awal menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa menyisakan makanannya, bahkan ada yang hanya mengonsumsi sebagian kecil. Temuan ini menyoroti perlunya tinjauan ulang terhadap implementasi program yang bertujuan mulia untuk mengatasi masalah gizi dan stunting di kalangan anak-anak sekolah.
“Ini bukan hanya masalah sisa makanan yang terbuang, tapi juga mempertanyakan efektivitas program dalam memenuhi asupan gizi anak-anak secara optimal,” ujar Dr. Ratna Sari, peneliti utama dari Departemen Antropologi FISIP UI, dalam keterangannya 05 March 2026. Ia menambahkan bahwa faktor preferensi rasa, variasi menu, hingga porsi yang tidak sesuai mungkin menjadi beberapa penyebab utama di balik fenomena ini.
DPR Soroti Efektivitas dan Potensi Pemborosan Anggaran
Anggota DPR RI, Bapak Budi Santoso dari Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, menyatakan keprihatinannya atas hasil penelitian tersebut. Ia menekankan pentingnya audit menyeluruh terhadap program MBG yang digulirkan untuk memastikan tepat sasaran dan tidak menimbulkan pemborosan anggaran negara yang signifikan. Bapak Budi juga menyoroti potensi dampak lingkungan dari sisa makanan yang terbuang serta urgensi aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak.
“Program Makan Bergizi Gratis adalah inisiatif mulia untuk memastikan anak-anak kita mendapatkan nutrisi yang cukup dan mendukung pertumbuhan mereka. Namun, jika mayoritas makanan tidak dihabiskan, maka ada masalah serius yang harus kita tangani segera. BGN harus segera turun tangan dan mengevaluasi SPPG ini dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan menu, pengadaan, hingga distribusi,” tegas Bapak Budi Santoso. “Kita tidak ingin dana rakyat terbuang percuma tanpa dampak gizi yang signifikan dan hanya menjadi tumpukan sampah makanan.”
Desakan ini mencerminkan kekhawatiran DPR terhadap potensi inefisiensi program yang memiliki alokasi anggaran tidak sedikit. Para wakil rakyat menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan program MBG agar tujuan utamanya, yaitu peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak, dapat tercapai secara maksimal.
Mencari Akar Masalah dan Solusi Strategis
Berbagai dugaan muncul terkait alasan siswa tidak menghabiskan makanannya. Dr. Ratna Sari menyebutkan beberapa faktor potensial, antara lain rasa dan variasi menu yang kurang sesuai dengan selera anak-anak Jakarta, porsi yang terlalu besar sehingga tidak habis, waktu makan yang berdekatan dengan jam sarapan di rumah, hingga faktor kebiasaan dan budaya makan anak-anak itu sendiri. “Perlu ada riset lebih mendalam tentang preferensi makanan anak-anak di tiap daerah, serta pelibatan orang tua, guru, dan ahli gizi dalam perancangan dan evaluasi menu,” tambahnya.
Program MBG sendiri secara garis besar bertujuan untuk mengatasi masalah stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa agar mereka memiliki performa akademik yang lebih baik. Namun, jika implementasinya tidak optimal dan makanan banyak tersisa, maka tujuan mulia tersebut dikhawatirkan tidak akan tercapai secara efektif. BGN diharapkan dapat bekerja sama secara lintas sektoral dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah, serta pakar gizi dan pangan untuk merumuskan standar SPPG yang lebih adaptif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan serta preferensi siswa.
Evaluasi menyeluruh yang diminta oleh DPR diharapkan tidak hanya berfokus pada audit keuangan, tetapi juga pada aspek kualitas gizi makanan, tingkat penerimaan dan konsumsi oleh siswa, sistem distribusi yang efektif, serta pengelolaan sisa makanan secara berkelanjutan. Dengan demikian, program Makan Bergizi Gratis dapat benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi generasi penerus bangsa dan menjadi investasi jangka panjang yang berhasil untuk masa depan Indonesia.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda



