Situasi tegang menyelimuti area depan Gedung DPR RI di Jakarta Pusat, sejak 31 August 2025 petang hingga dini hari, berujung pada bentrokan sengit antara massa aksi dan aparat kepolisian. Tembakan gas air mata dilepaskan berulang kali untuk menghalau lemparan batu dari demonstran, mengakibatkan belasan orang diamankan oleh pihak kepolisian.
Kericuhan mulai memuncak sekitar pukul 19.00 WIB ketika ribuan demonstran, yang didominasi oleh mahasiswa dan elemen masyarakat sipil, mencoba merangsek masuk ke kompleks parlemen. Aparat keamanan yang telah bersiaga penuh dengan membentuk barikade kawat berduri dan mengerahkan mobil taktis, berupaya membendung pergerakan massa. Awalnya, aksi massa berlangsung relatif damai dengan orasi dan nyanyian tuntutan, namun tensi meningkat drastis seiring gelapnya malam.
Kronologi Eskalasi dan Tuntutan Massa
Protes yang awalnya berlangsung damai sejak siang hari, dengan tuntutan penolakan terhadap revisi undang-undang kontroversial dan mendesak pemerintah untuk meninjau ulang sejumlah kebijakan ekonomi, mulai bergejolak ketika dialog antara perwakilan massa dan pihak keamanan menemui jalan buntu. Massa merasa aspirasi mereka tidak didengar dan memilih untuk mencoba menerobos barikade keamanan.
Sekitar pukul 20.30 WIB, lemparan botol air mineral dan benda tumpul lainnya mulai melayang ke arah petugas. Kondisi ini kemudian dibalas dengan semprotan air dari mobil water canon dan tembakan gas air mata secara beruntun. Area depan DPR RI seketika diselimuti kabut putih pekat dan aroma pedih yang menyengat, membuat massa kocar-kacir.
“Kami datang ke sini bukan untuk ricuh, tapi menuntut keadilan. Suara kami harus didengar, bukan dibungkam dengan kekerasan! Pemerintah dan DPR harus mencabut RUU yang jelas-jelas merugikan rakyat kecil ini,” teriak seorang koordinator aksi mahasiswa, [Nama Fiktif], di tengah kepulan gas air mata, sebelum akhirnya diamankan petugas.
Bentrokan terus berlanjut hingga lewat tengah malam. Sebagian massa memilih bertahan dan melempari petugas dengan batu-batu yang diambil dari sekitar lokasi. Aparat kepolisian, yang terus memperkuat barisan, secara perlahan berhasil mendorong mundur massa ke arah Jalan Gatot Subroto. Proses pembubaran ini diwarnai aksi kejar-kejaran dan penangkapan beberapa individu yang dianggap sebagai provokator atau terlibat dalam perusakan fasilitas umum.
Tindakan Aparat dan Dampak Pasca-Bentrokan
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. [Nama Fiktif], menjelaskan bahwa tindakan represif terpaksa diambil setelah peringatan berulang tidak diindahkan dan keselamatan petugas serta ketertiban umum terancam. “Kami telah berusaha melakukan negosiasi, namun massa terus memprovokasi dan menyerang petugas. Penggunaan gas air mata adalah upaya terakhir untuk membubarkan kerumunan demi menjaga ketertiban umum,” ujar Kombes Pol. [Nama Fiktif] dalam konferensi pers singkat di lokasi kejadian.
Hingga pagi 31 August 2025, situasi di sekitar Gedung DPR RI terpantau kondusif, namun sisa-sisa kericuhan masih terlihat. Beberapa pecahan botol, batu, dan sampah berserakan di jalanan. Lalu lintas di Jalan Gatot Subroto sempat lumpuh total dan kini berangsur normal dengan penjagaan ketat dari aparat keamanan. Sebanyak sekitar 15 orang demonstran yang diamankan telah dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Beberapa di antaranya dilaporkan mengalami luka ringan akibat bentrokan tersebut.
Anggota Komisi III DPR RI, [Nama Anggota Fiktif], menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut. “Kami akan segera meminta klarifikasi dari pihak kepolisian dan juga mendengarkan aspirasi dari para demonstran. Kekerasan bukan solusi, dan dialog harus menjadi prioritas dalam mencari jalan keluar dari setiap perbedaan pandangan,” ujarnya. Pihak kepolisian menyatakan akan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi provokator dan memproses hukum sesuai aturan yang berlaku, sementara sejumlah organisasi bantuan hukum telah menyatakan kesiapan untuk mendampingi para demonstran yang ditahan.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda